Agama Hindu
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh....
Segala puji dan puja syukur penulis panjatkan ke hadirat
Allah SWT, atas berkat dan anugerah-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan
dan merampungkan makalah yang berjudul “Agama
Hindu “. Shalawat teriring salam
semoga tercurahkan pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini disusun oleh penulis dengan tujuan untuk
mendalami pemahaman mengenai pendekatan objektif. Penulis menyadari bahwa,
dirampungkannya makalah ini tidak terlepas dari adanya bantuan dari berbagai
pihak. Untuk itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada dosen pembimbing dan
rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan masukan-masukan yang sangat
bermanfaat bagi penulis.
Tak ada gading yang tak retak, tak ada sesuatu yang
sempurna. Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Untuk
itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
kepada pembaca demi kesempurnaan makalah ini di masa yang akan datang. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Billaahi fii sabiililhak fastabikul khairat
Wassalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh
Ciputat, 05 Oktober 2011
PENDAHULUAN
India adalah negeri yang serba ganda; ganda dalam suku bangsa, budaya,dan ganda
dalam soal kepercayaan dan agama. Karena keserbagandaanini maka mempelajari
agama hindu terasa mengalami kesulitan. Subjeknya sangat luas dan mencakup
suatu kesejarahan yang sangat panjang, apalagi agama tersebut memiliki ajaran
yang tak terbatas. Akan tetapi dengan usaha penulusuran, dan mencoba
memandanganya secara hati-hati. Dalam kesempatan ini akan diusahakan melihatnya
dalam satu bentuk yang dirasa utuh. Kalau ada benarnya ungkapan yang mengatakan
bahwa mempelajari agama hindu itunibarat seorang buta yang mencoba
menggambarkan gajah, maka usaha ini kiranya dapat digambarkan seperti seorang
yang tidak buta dan memiliki keahlain tentang ular sehingga ketika mecoba
membala belalai gajah ia akan merasa lebih menghayatinya dari pada ketika
membahas bagian-bagian lainnya.
A. Definisi
Agama
Hindu timbul dari dua arus utama yang membentuknya, yaitu Agama ( bangsa )
Dravida dan Agama (bangsa) Arya. Dalam perkembangannya di
India lalu ada usaha-usaha yang mempesonakan untuk memasukan berbagai
macamkepercayaan yang ada, filsafatnya, dan praktek-praktek keagamaannya dalam
suatu sistem yang sekarang ini disebut denganAgama Hindu. Semangat yang sangat
menyolok dalam Hindu adalah “ sintesis dan kompromis “. Agama tersebut menyerap
ide-ide penalaran dan amalan kedewaan Siwa, Dewi Ibu, pemujaan patung,
pertapaan, ajaran penjelmaan kembali dan sebagainya. Siwa dinggap sebagai dewa
angin badai yang ada dalam kitab weda. Dan di sini Siwa disebut sebagai Rudra.
Dalam perkembangannya ia adalah salah satu dewa terpenting
Unsur
penting yang merupakan ajaran yang dominan dalam agama Hindu adalah unsure
teologi, filsafat, lembaga sosial, dan etika atau moral. Agama Hindu
mempercayai Realitas Tertinggi hanya satu, akan tetapi tidak membatasi yang
satu sebagai realitas yang dimaksud sebagai Tuhan yang personal. Selain itu
agama Hindu juga percaya dan menyembah dewa-dewa alam yang jumlahnya sangat
banyak yang dianggap pengatur alam, dan penting kedudukannya dalam upacara
korban. Dewa-dewa ini di harapkan memberikan kesenangan, kebahagiaan,dan
ketenangan, dan sebagai imbangannya, bila para dewa merasa senang, para dewa
akan mengabulkan keinginan mereka.
B. Sumber
Pokok Ajaran Agama Hindu
Agama
Hindu adalah agama yang sudah sangat tua dan merupakan agama pokok yang di anut
di kawasan India. Agama ini banyak didasarkan pada beberapa naskah suci yang
ada.tidak seperti agama-agama lain, dalam agama hindu tidak dapat diketahui
secara pasti siapa pendirinya atau siapa yang membawa pertama kali
ajaran-ajarannya. Ini merupakan salah satu kesulitan dalam mempelajari agama
Hindu. Dalam agama Hindu ada kepercayaan bahwa agama itu di wahyukan melalui
orang-orang yang melihat dan tahu akan kebenaran yang disebut Resi.
Resi adalah
orang yang telah mendengar, pengetahuan tadi lalu sering disebut dengan “ sruti
“. Apa yang di dengar biasanya lalu dijadikan teks-teks yang ada kalanya
disebut dengan mantra-mantra yang sangat dipentingkan dalam melakukan meditasi,
dan juga sering dikatakan sebagai kemampuan menyelamatkan akal pikiran.
Dalam hal ini para Resi sering disebut dengan Muni. Ketenangan, perenungan
dan pandangan yang mendalam dan mendasar, adalah fase-fase dari beberapa proses
para Resi atau Muni melihat kebenaran. Proses ini diungkapkan dengan tapa, yang
berarti mengalihkan kekuatan-kekuatan batin, tenggelam dalam penghayatan dan
melakukan perenungan kontemplatif yang disebut Alacona.
Acarya ( guru,
ghuru ) adalah para tokoh penafsir secara rinci dalam bidang mazhab filsafat
Darsana. Yang terpenting di antaranya ialah Sankara.
Para
Resi dan para pengukutnya disebut para Arya, atau dengan sebutan lain Sista
( orang yang sangat disiplin ). Sebutan ini jauh sekali maksudnya bahkan
bertentangan dengan sebutan Mleccha ( campuran ) yang tidak memiliki
pola hidup yang mantap, melakukan berbutan tidak karuan dan tidak memiliki
norma tertentu.
Sumber pokok kedua agamba hindu adalah naskah-naskah suci, dan yang terkenal
diantaranya adalah Purana dan Tantra. Purana berjumlah delapan
belas kitab dan sudah ada sejak abad ke3. Purana merupakan kitab suci agama
Hindu yang berisi ajaran dalam bentuk cerita dan perumpamaan-perumpamaan yang
dimaksudkan untuk memudahkan penerapan dari pengertian tinggi dalam kehidupan
sehari-hari umat awam. Mengenai naskah Tantra ada anggapan bahwa naskah atau
kitab tersebut diberikan oleh dewa Siwa kepada umat Hindu untuk zaman Kali-yoga
sekarang ini ( satu Kalpa terbagi menjadi 1000 mahayuga dan
setiap mahayuga terdiri dari empat yuga, yaitu Karta-Yuga, Trta-Yuga,
Dvapra-yuga, dan Kali-yuga ) penyusunannya dilakukan oleh para
Resi. Kitab ini penuh dengan ajaran-ajaran rahasia dan sulit dipahami
maksudnya.
C. Tiga
Agama Penting
a. Agama
Weda
Kehidupan
keagamaan umat Hindu di dasarkan pada naskah suci yang disebut Weda Samhita,
yang mereka yakini sebagai ciptaan Brahma. Hanya para resi saja yang mampu
menerima isi Weda tersebut. Isi Weda pada mulanya berbentuk mantra-mantra,
kemudian disusun dalam bentuk puji-pijian. Kitab suci Weda terdiri dari 4
Shamsita, yaitu;
· Rigweda
· Samaweda
· Yajurweda
· Atharwaweda
b. Agama
Brahmana
Dalam
agama Brahmana terlihat adanya beberapa perkembangan bentuk maupun isi dari
agama semula. Mungkin hal ini tidak terlepas dari penjelasan masa ketika orang
arya India sampai keluar daerah Punjab dan memasuki lembah sungai Gangga dan
Yamuna.
c. Agama
Upanishad
Agama
Upanishad isinya merupakan pemikiran falsafi yang berkisar seputar arti
dan tujuan hidup dan masalah yang berkaitan dengan hakekat manusia dan alam
semesta. Istilah Upanished sendiri berasala dari kata upa, ni dan
shad; upani=dekat,di dekatnya; dan shad=duduk. Jadu Upanishad berarti “ duduk
dekat”, yaitu duduk didekat seorang guru untuk menerima ajaran dan pengetahuan
yang lebuh tinggi. Istilah ini selanjutnya menjadi nama agama. Kitab Upanishad
berbentuk dialog antara seorang guru dan muridnya, atau antara seorang Brahmana
dengan Brahmana lainnya. Kitab Upanishad adalah salah satu bagian saja
dari kitab-kitab Aranyaka yang isinya menekankan pada ajaran rahasia yang
bersifat mistik dan magis.
Kitab-kitab
Upanishan merukapan teks-teks India yang sangat terkenal. Kitab ini telah
diterjemahkan ke dalam bahasa latin berdasarkan versi Persia ( 1801-1802) juga
kedalam bahasa Eropa lainnya, dan di anggap besar pengaruhnya di kalangan ahli
piker barat.
D. Sakte-Sakte
Dalam Agama Hindu
a. Sakte
Bhakti
Sekitar
tahun 500 SM muncul beberapa kecenderungan yang kemudian dikenal sebagai sakte
Bhakti. Yang menekankan pengertian “ pemujaan“ pelayanan atau kebaktian yang
mencakup pengertian percaya, taan dan berserah diri kepada dewa.
b. Sakte
wisnu
Merupakan
suatu aliran yang menekankan pemujaan kepada Wisnu, istrinya dan avatarnya.
Pemujaan ini biasanya mengutamanakan tafsiran teistik pada wedata, diantaranya
oleh Visnusvamin ( abad ke 13)
c. Sakte
Siwa
Sakte
ini lebih tua dari sakte wisnu. Disini siwa dianggapsebagai dewa tertinggi,
sementara Brahma dan wisnu dinggap sebagai penjelmaan dari siwa. Istri siwa
atau saktinya adalah Uma dan Parvati. Siwa dipuja sebagai dewa tertinggi dengan
nama Mahadeva atau Mahesvara dengan saktinyaMahadeva dan
Mahesvari.
d. Sakte
Sakti
Sebenarnya
aliran ini masih termasuk kedalam alirtan siwa,tetapi karena yang di sembah
bukan lagi siwa melainkan saktinya dalam bentuk Durga, maka lebih tepat kalau
di angap sebagai salah satu alirankeagamaan tersendiri dalam agama Hindu. Sakti
adalah kekuatan, prinsip aktif yang menyebabkan Siwa mampu mencipta. Karena itu
sakti menjadi lebih penting dari pada Siwa sendiri.
e. Sakte
Tatra
Aliran
ini disebut dengan Tantrayana karena mendasarkan diri pada kitab-kitab Tatra.
Sakte Tatra merupakan perpaduan yang sinkretistik dari berbagai macam
kepercayaan, termasuk kepercayaan primitive di India aliran ini juga terdapat
dalam agama Buddha. Sementara dalam agama Hindu terdapat dalam kalangan para
pemuja siwa.
E. Sejarah
Perkembangan Agama Hindu
Di india
Agama Hindu sering disebut dengan nama Sanatana Dharma, berarti agama yang
kekal, atau Waidika Dharma, yang berarti agama yang berdasarkan kitab suci
weda. Menerut para sarjana, agama tersebut membentuk dari campuran antara agama
India asli dengan agama atau kepercayaaan angsa Arya.
Secara garis besar perkembangan agama Hindu dapat di bedakan menjadi tiga
tahap, pertama: sering disebut dengan zaman Weda, yang dimulai dengan
masuknya bangsa Arya di Punjab hingga munculnya agama Buddha. Kedua:
tahapan atau Zaman agama Buddha yang mempunyai corak yang sangt lain
dari agama Weda. Ketiga: dikenal sebagai zman agama Hindu. Agama
Hindu tidak hanya terdapat di India, tetapi juga telah masuk ke Indonesia.
Bahkan sangat kuat pengaruhnya terutama di jawa. Ada beberapa bukti pengaruh
agama Hindu dan kebudayaan India terhadap Indonesia dalam bidang sastra dan
Agama, seni bangunan dan adat kebiasaan yang ada di sekitar kraton.
Aliran agama Hindu yang paling besar pengaruhnya adalah Siwa dan Tatra ( abad
ke 6 ). Di Indonesia aliran Tatra dan agama Buddha ( yang sempat mendesak Tatra
keluar dari India ) justru menyatu dengan sebutan agama Siwa-Buddha.
Percampuran antara keduanya terlihat jela pada zaman kerajaan Singasari (
1222-1292 ).
DAFTAR
PUSTAKA
Romdhon,Basuki
A. Singgih, Aleftheria wasim, Abdurrahman dkk Agama- Agama Dunia,
Yogyakarta, September 1988
Unaimah
Sanaya