Senin, 01 Oktober 2012

Menuju Persatuan Umat



Judul Buku      : Menuju Persatuan Umat  
Penulis             :  Ahmad Syafi’i Maarif, dkk
Penerbit           :  Mizan
Tahun              : 2012
Halaman          : 271 Halaman.


  Menuju Persatuan Umat “ adalah judul dari sebuah buku yang di buat oleh beberapa tokoh yang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita diataranya adalah ; 1. Ahmad Syafi’i Maarif, 2. Ali Audah, 3. Jalaludin Rahmat, 4. Lukman  Harun, 5. M. Amien Rais, 6. M. Dawan Rahardjo, 7. Nurcholish Madjid, 8. Quraish Shihab , 9. Said Aqil Siradj. Inilah ke sembilan pemikir yang memiliki misi yang sama yaitu mewujudkan persatuan umat sesuai dengan syari’at Islam. Buku ini pertamakalinya di terbitkan pada tahun 1986 dengan judul “ Satu Islam; Sebuah Dilema “. Dengan munculnya buku ini penerbitan rupanya banyak mendapatkan sambutan dan respon yang cukup baik dari para pembaca.  Terbukti hingga di tahun 1994 buku ini sempat mencapai cetakan VII.
Sebuah buku yang jika dilihat sepintas memang tidak begitu tebal, walau hanya 271 halaman, namun ini adalah bentuk kepedulian mereka akan kondisi bangsa kita dan peka dengan apa yang sering terjadi di Negeri kita saat ini, seperti banyak konflik- konflik  yang justru saat ini terasa semakin merajalela, dan merosotnya kerukunan antar sesama indifidu dan kelompok muslim khususnya. Seperti yang dijelaskan oleh salah satu penulis buku ini Ali Audah yang mengangkat judul “ Ukhuah Islamiah: Persamaan Akidah Minus Fanatisme” yang dimana ia mengatakan bahwa “ penggunaan kata ukhuah Islamiah selama ini masih banyak berbau selogan. Meski, sebenarnya persaudaraan kaum  Muslim ini merupakan inti ajaran sosial Islam. Pegangan kaum Muslim yang paling utama dalam hal ini adalah Al-Qur’an dan Hadits. Al-Qur’an menjelaskan bahwa kaum mu’min itu bersaudara, maka Carilah jalan ishlah (kerukunan) diantara sesama saudara. Dan seperti dijelaskan juga oleh RasulauLLah SAW bahwa “ Umatku tidak akan bersepakat untuk sesuatu kejahatan, Maka jika terdapat perbedaaan pendapat diantara kamu, ambilah suara terbanyak “. Beliau juga menegaskan bahwa Akidah Islam memang tidak dapat ditandingi, sebagi contoh dalam penyiaran agama Islam, baik itu melalui Radio, Televisi dan Audio Visual lainnya. Atau melalui media cetak seperti Koran, majalah, Buletin Dll, orang tidak berbicara sekte, aliran, mazhab, atau golongan tertentu. Mimbar Muhammadiyah, mimbar NU, dan mimbar mazhzb- mazhab linnya sudah menjadi milik semua umat. Perbedaan yang ada di organisasi –organisasi tersebut hanyalah dipermukaan belaka, yakni dalam memperjuangkan sistem-politik, sosial, ataupun pendidikan. Kenyataannya Muhammadiyah, NU dan yang lainnya terus tumbuh dengan caranya masing-masing, inilah fenomena yang jarang ditemukan di dalam agama lain.
Hal yang menarik lainnya yang di ungkapkan oleh Ahmad Syafi’i Maarif yang di tulis di buku ini, yang masih berkaitan denga ukhuwah Islamiah. menariknya beliau kolaborasikan antara Ukhuwah Islamiah dengan etika Al-Qur’an. Menurut hemat beliau sudah cukup lama umat ini membicarakan mutlaknya ukhuwah Islamiyah bagi semua Muslim, tapi realitas hidup kita sehari-hari tidak selalu mendukung cita-cita itu. Menurut beliau perbedaan kepentingan politik adalah diantara sebab utama buyarnya ukhuwah kita, politik adalah masalah kekuasaan dan ia merupakan sesuatu yang memang mutlak bagi pembumian suatu cita-cita. Tanpa kekuasaan cita-cita hanyalah berada dalam awang-awang. Dengan demikian menurut hemat beliau juga yang penting pertamakali adalah merumuskan dengan jelas dan tajam untuk apa kita berkuasa,  dan setelah itu baru kita carikan bentuk kekuasaan yang dapat melaksanakan cita-cita kemanusiaan yang islami. Tanpa perumusan yang jelas dan tajam tentang tujuan kita berkuasa, beliu hawatir Islam hanyalah sekedar pakain luar untuk menyelimuti ambisi-ambisi jahat yang sengaja disembunyikan. Banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang prinsip-prinsip persamaan, keadilan, persaudaraan dan toleransi yang harus dijadikan landasan utama bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara diantaranya : Al- Hujrat ayat 10, 13 dan 15, An Nisa ayat 58, Al Nahl ayat 90, Al Maidah ayat 8, Al Zumar 18, dan Al Baqarah ayat 256. 

 ~ >Unaimah Sanaya < ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar