Judul Buku : Menuju Persatuan Umat
Penulis : Ahmad Syafi’i Maarif, dkk
Penerbit :
Mizan
Tahun
: 2012
Halaman : 271 Halaman.
“ Menuju Persatuan Umat “ adalah judul dari
sebuah buku yang di buat oleh beberapa tokoh yang mungkin sudah tidak asing
lagi di telinga kita diataranya adalah ; 1. Ahmad Syafi’i Maarif, 2. Ali Audah,
3. Jalaludin Rahmat, 4. Lukman Harun, 5.
M. Amien Rais, 6. M. Dawan Rahardjo, 7. Nurcholish Madjid, 8. Quraish Shihab ,
9. Said Aqil Siradj. Inilah ke sembilan pemikir yang memiliki misi yang sama
yaitu mewujudkan persatuan umat sesuai dengan syari’at Islam. Buku ini pertamakalinya
di terbitkan pada tahun 1986 dengan judul “ Satu Islam; Sebuah Dilema “. Dengan
munculnya buku ini penerbitan rupanya banyak mendapatkan sambutan dan respon
yang cukup baik dari para pembaca.
Terbukti hingga di tahun 1994 buku ini sempat mencapai cetakan VII.
Sebuah
buku yang jika dilihat sepintas memang tidak begitu tebal, walau hanya 271
halaman, namun ini adalah bentuk kepedulian mereka akan kondisi bangsa kita dan
peka dengan apa yang sering terjadi di Negeri kita saat ini, seperti banyak
konflik- konflik yang justru saat ini
terasa semakin merajalela, dan merosotnya kerukunan antar sesama indifidu dan
kelompok muslim khususnya. Seperti yang dijelaskan oleh salah satu penulis buku
ini Ali Audah yang mengangkat judul “
Ukhuah Islamiah: Persamaan Akidah Minus Fanatisme” yang dimana ia
mengatakan bahwa “ penggunaan kata ukhuah Islamiah selama ini masih banyak
berbau selogan. Meski, sebenarnya persaudaraan kaum Muslim ini merupakan inti ajaran sosial
Islam. Pegangan kaum Muslim yang paling utama dalam hal ini adalah Al-Qur’an
dan Hadits. Al-Qur’an menjelaskan bahwa kaum mu’min itu bersaudara, maka
Carilah jalan ishlah (kerukunan)
diantara sesama saudara. Dan seperti dijelaskan juga oleh RasulauLLah SAW bahwa “ Umatku tidak akan bersepakat untuk
sesuatu kejahatan, Maka jika terdapat perbedaaan pendapat diantara kamu,
ambilah suara terbanyak “. Beliau juga menegaskan bahwa Akidah Islam memang
tidak dapat ditandingi, sebagi contoh dalam penyiaran agama Islam, baik itu
melalui Radio, Televisi dan Audio Visual lainnya. Atau melalui media cetak
seperti Koran, majalah, Buletin Dll, orang tidak berbicara sekte, aliran,
mazhab, atau golongan tertentu. Mimbar Muhammadiyah, mimbar NU, dan mimbar
mazhzb- mazhab linnya sudah menjadi milik semua umat. Perbedaan yang ada di
organisasi –organisasi tersebut hanyalah dipermukaan belaka, yakni dalam
memperjuangkan sistem-politik, sosial, ataupun pendidikan. Kenyataannya Muhammadiyah,
NU dan yang lainnya terus tumbuh dengan caranya masing-masing, inilah fenomena
yang jarang ditemukan di dalam agama lain.
Hal
yang menarik lainnya yang di ungkapkan oleh Ahmad Syafi’i Maarif yang di tulis
di buku ini, yang masih berkaitan denga ukhuwah Islamiah. menariknya beliau
kolaborasikan antara Ukhuwah Islamiah dengan etika Al-Qur’an. Menurut hemat
beliau sudah cukup lama umat ini membicarakan mutlaknya ukhuwah Islamiyah bagi
semua Muslim, tapi realitas hidup kita sehari-hari tidak selalu mendukung
cita-cita itu. Menurut beliau perbedaan kepentingan politik adalah diantara
sebab utama buyarnya ukhuwah kita, politik adalah masalah kekuasaan dan ia merupakan
sesuatu yang memang mutlak bagi pembumian suatu cita-cita. Tanpa kekuasaan
cita-cita hanyalah berada dalam awang-awang. Dengan demikian menurut hemat
beliau juga yang penting pertamakali adalah merumuskan dengan jelas dan tajam
untuk apa kita berkuasa, dan setelah itu
baru kita carikan bentuk kekuasaan yang dapat melaksanakan cita-cita
kemanusiaan yang islami. Tanpa perumusan yang jelas dan tajam tentang tujuan
kita berkuasa, beliu hawatir Islam hanyalah sekedar pakain luar untuk
menyelimuti ambisi-ambisi jahat yang sengaja disembunyikan. Banyak ayat
Al-Qur’an yang menjelaskan tentang prinsip-prinsip persamaan, keadilan,
persaudaraan dan toleransi yang harus dijadikan landasan utama bagi kehidupan
bermasyarakat dan bernegara diantaranya : Al- Hujrat ayat 10, 13 dan 15, An
Nisa ayat 58, Al Nahl ayat 90, Al Maidah ayat 8, Al Zumar 18, dan Al Baqarah
ayat 256.
~ >Unaimah Sanaya < ~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar